skip to Main Content
Kerusuhan Capitol Hill, Pertanda Kemunduran Demokrasi AS? – DISKO Vol.2

Kerusuhan Capitol Hill, Pertanda Kemunduran Demokrasi AS? – DISKO Vol.2

Diskusi Isu Kontemporer (DISKO VOL.2) dengan tema “Rusuhnya Capitol Hill, sebagai Tanda Kemunduran Demokrasi Amerika Serikat” turut mengundang dosen HI UAI Fadhillah Wiriatma S.IP dan Hanum Adiningsih, mahasiswi HI UAI 2018, sebagai narasumber dalam diskusi ini. Diskusi ini telah membahas tentang Capitol Hill, faktor penyebab kerusuhan di Capitol Hill, bagaimana kerusuhan tersebut terjadi, dan apa yang akan dihadapi masyarakat AS dan dunia dalam insiden kerusuhan ini.

Capitol Hill merupakan tempat persidangan Senat serta Kongres Amerika Serikat. Insiden Capitol Hill merupakan awal dari protes damai namun akhirnya menjadi ‘meletus’ karena penyerbuan para provokasi, sehingga Capitol Hill berujung pada kemarahan dan kekerasan. Hal ini disebabkan oleh penentangan hasil pemilu yang dimenangkan oleh Joe Biden dan dianggap tidak adil oleh para pendukung Donald Trump. Oleh karena itu, Donald Trump terancam untuk dimakzulkan kedua kalinya karena penghasutan atas tindak kekerasan (Arbar, 2021a).

Protes ini menjadi tantangan serta kemunduran atas demokrasi AS (Indonesia, 2021). China melakukan sindiran dan ejekan dengan membandingan kerusuhan ini dengan protes anti-pemerintah yang terjadi di Hongkong tahun 2019 (Arbar, 2021b). Tidak hanya itu, Hanum Adiningsih berkomentar bahwa “Presiden Irak juga menyebut bahwa demokrasi Barat melemah, warga Irak mengatakan bahwa insiden Capitol Hill ini adalah sebuah karma dari invasi Irak di Baghdad tahun 2003”.

Penyebab utama atas kerusuhan Capitol Hill adalah penolakan hasil pemilu yang telah dimenangkan Joe Biden. Donald Trump menuduh ada kecurangan dalam hasil pemilu pilpres ini. Namun, Trump selalu menggaungkan narasi yang tidak terbukti akurat. Para pendukung Trump yang tidak terima pun berani melakukan penyerangan saat penetapan kemenangan Joe Biden berlangsung di Capitol Hill.

Para pendukung Donald Trump juga dengan bebasnya melakukan apapun di area kompleks dan ruang Senat di Capitol Hill. Salah satu pendukung Donald Trump berteriak di atas kursi milik presiden Senat sambil berteriak “Trump menang dalam pemilihan itu!” (Administrator, 2021). Donald Trump juga menulis cuitan di Twitter yang berujung provokasi dan tindak anarkis, namun Donald Trump menyangkal hal tersebut dengan menyatakan bahwa dia menentang kekerasan serta menyebut tidak memprovokasi para pendukungnya.

sumber gambar: cnnindonesia.com

Kerusuhan Capitol Hill ini menjadi peringatan keras terhadap sistem demokrasi AS. Adapun Fadhillah Wiriatma menambahkan bahwa, “Hal yang sudah menjadi rusak di masa Donald Trump dan apa yang sudah diwariskan Obama kembali di masanya Joe Biden. Selain itu, AS kembali untuk memperoleh kepercayaan dunia seperti COVID-19, keamanan internasional dan pembangunan berkelanjutan. AS dalam internasionalisme akan kembali di masa Joe Biden. Adapun, ia akan memperluas langkah-langkah strategisnya terutama dalam berurusan dengan China dan Rusia serta mengembalikan kepercayaan demokrasi AS ke dunia”.

REFERENSI

Administrator. (2021). Contoh Buruk Demokrasi AS. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2216-contoh-buruk-demokrasi-as.

Arbar, T. F. (2021a). China Komentari Massa Trump yang Serbu Capitol Hill AS. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20210107150408-4-214238/china-komentari-massa-trump-yang-serbu-capitol-hill-as.

Arbar, T. F. (2021b). Ini Penyebab Trump Dimakzulkan DPR AS Sampai 2 Kali. Media Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20210114105455-4-215858/ini-penyebab-trump-dimakzulkan-dpr-as-sampai-2-kali.

Indonesia, B. (2021). Imbas serbuan Gedung Capitol oleh pendukung Trump: ‘Sejarah buruk’ dan AS tak lagi menjadi rujukan negara demokrasi. BBC Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55575948.

REFERENSI GAMBAR

Kompas.com

Back To Top