skip to Main Content

“Goodbye to days of wild abandon”: Marco, Fasisme, dan Penyesalan

(Review Film “Porco Rosso”) 

Di tengah laut adriatik cerita kami bermula dengan asap rokok, botol wine yang tumpah, bajak laut yang merampok di mediteranian, dan seorang babi yang memandu pesawat merah. Marco, protagonis kami adalah seorang mantan pilot Italy yang sekarang bekerja sebagai pemburu hadiah dikutuk menjadi babi karena rasa penyesalannya terhadap kematian teman pilotnya (Belini) di Perang Dunia I, Tema-tema seperti romansa, pergulatan batin, dan pesan politik selalu mendominasi film-film karya Hayao Miyazaki. Tetapi yang membuat Porco Rosso beda dengan film Ghibli lainnya adalah bagaimana perpaduan antara tiga tema tersebut diceritakan dengan cara yang sangat sempurna melalui film ini sehingga kita mendapati mahakarya modern yang bisa kalian tonton berulang-ulang. Mari kita kupas bagaimana film “Porco Rosso” dapat menjawab pertanyaan bagaimana kita dapat hidup dengan penyesalan kita? dan apakah lebih baik menjadi babi daripada seorang fasis? Melalui tiga pilar utama protagonis film ini. 

– Tiga Pilar Marco

1. Masa Lalu yang penuh kesedihan

Kita mulai dengan masa lalu Marco, inilah yang menjadi dasar dari film ini dan konflik sentral yang terdapat dalam cerita kita, melihat dari cerita masa lalunnya yang dimana Marco sebagai pilot Italy di perang dunia 1 melihat teman lamanya yang juga seorang pilot meninggal saat bertugas, rasa penyesalan yang sangat besar dialaminya mengubah dirinya menjadi seorang babi. Disini kita dapat bagian dari kedua pertanyaan yang dipertanyakan dalam film ini, penyesalan terhadap perstiwa ini mengubah pandangan Marco terhadap hidupnya yang tadinya relatif positif menjadi hal yang harus dikutuk, 

2. Masa Kini yang Idealis

Pertengahan alur cerita ini yang saya dengan “masa kini”, disini kita dapat melihat bagaimana Marco memandang hidupnya dan hubungannya dengan manusia lain. Pandangan dia terhadap hidup terkutuknya dengan rasa penyesalan terhadap kematian Belini dan pekerjaannya sebagai pemburu hadiah membuat dia relatif apatis dengan keamanan fisiknya serta relasi yang masih ia miliki dengan manusia lain seperti maddame Gina Karakter yaang menjadi objek cinta dalam cerita ini, Fio tokoh yang menjadi penyelamat dari hidupnya yang penuh dengan penyesalan, dan Curtis seorang bajak laut dari Alabama yang ingin merebut Gina dari Marco. Tapi saya melenceng dari topik, sebelum kita melihat kaitan Marco dengan keiga karakter tersebut mari kita balik ke hidupnya Marco yang terkutuk ini karena meskipun terkutuk ada sisi positifnya yang terdapat dalam perlawanan.

Anti Fasisme menjadi salah satu tema sentral dalam film, hal ini di representasikan dengan bagaimana Marco memandang dirinya sebagai babi tetapi tidak memandang dirinya sebagai fasis, dialog “Better to be a pig than a facist” bukan hanya sekedar dialog keren yang beraliran antifa tetapi juga merepresentasikan perlawanan Marco terhadap rezim yang ada pada masa itu dan juga sebagai garis moral yang tidak akan dilangkahi olehnya, meskipun ia babi ia tetap tidak akan sejauh itu hingga menjadi seorang fasis. Dari ini kita bisa melihat bahwa perlawanan terhadap kejahatan dimulai dari keinginan individu untuk melihat bahwa hal tersebut salah dan melawannya sekecil apa pun bentukan perlawanan tersebut, truly it is better to be a pig rather than a fascist!  

3. Masa Depan yang akan dihadapi

Balik lagi kita kehidupan terkutuknya Marco dan hubungannya dengan tiga karakter yang saya sebut diatas (Madame Gina, Fio, dan Curtis) pun juga jadi representasi dari tiga pilar yang jadi bahan omongan topik movie review ini dan tiga karakter ini menjadi kunci Marco untuk melangkah maju dengan hidupnya, Hubungan Marco dengan Gina (sebagai pilar masa lalu) merepresentasi rasa keenganan Marco dalam melihat masa lalunya apa adanya, ia dan tidak mau mengahadapinya karena rasa penyesalan terhadap kematian Belini. Hubungan Marco dengan Fio menjadi pertengahan permulaan dari kesadaran Marco untuk melangkah maju dengan hidupnya, idealistik dan muda fio mereprenstasikan bagian dari Marco yang hilang semenjak ia berubah menjadi babi yaitu kekuatan untuk melihat sisi baik dari diri sendiri dan melangkah maju dengan hidup meskipun ada beban yang menarik untuk berdiam. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, Hubungan Marco dengan Curtis sekaligus pertandingan tinju mereka pada akhir merepresentasikan perlawanan Marco (secara harfiah) dengan situasinya. Dengan melihat masa lalu (Gina) secara utuh dan menerima apa yang terjadi, dengan melihat masa kini (Fio) dan menerima dirinya sendiri meskipun ia terkutuk menjadi babi, dengan berdiri melawan dan mengahadapi masa depan (Curtis) ia melihat bahwa hidup dia meskipun terkutuk harus terus maju. Hal ini hanya dapat dilakukan jika ketiga dari pilar tersebut ada di Marco seperti  yang ada di akhir film ketiga karakter yang merepresentasikan tiga pilar tersebut tergabung dan bertemu dihadapan Marco. Dan memang iya, setelah itu Marco balik lagi menjadi manusia biasa akan tetapi hal itu tidak ditunjukkan kepada penonton karena hal ini juga menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan sentral yang ditanyakan film ini, perubahan tidak datang begitu saja melainkan bertahap dan harus digabungkan dengan kemauan kita sendiri untuk berubah. Dengan ini pertanyaan sentral terjawab. Iya, kita dapat hidup dengan penyesalan kita dengan melihat masa lalu dengan apa adanya, melihat diri kita pada saat ini dan menermanya secara utuh, melangkah maju mengahdapi masa depan meskipun menyakitkan.

Sometimes, carrying on, just carrying on, is the superhuman achievement” – Albert Camus           

Back To Top