Women, Peace and Security After 25 Years: The Role of Women in Maintaining Peace & Security in Today’s World
Perdamaian akan lebih bertahan lama ketika perempuan dilibatkan secara bermakna. Women, Peace and Security bukan sekadar agenda normatif, tapi kebutuhan strategis dunia hari ini. Dalam forum hari ini, Marty Natalegawa menegaskan:
Diplomacy first. Di tengah defisit kepemimpinan global dan meningkatnya risiko konflik terbuka, diplomasi multilateral harus menjadi pilihan utama. Menjadi negosiator yang baik bukan soal berbicara paling keras, tetapi soal mendengar paling dalam.Kemampuan memahami perspektif berbeda adalah fondasi perdamaian.
Fakta penting: Perempuan masih sangat minim di meja perundingan global. Padahal kontribusi perempuan jauh melampaui meja negosiasi. Di wilayah konflik, perempuan menjadi penengah, perawat kohesi sosial, dan agen rekonsiliasi. Setelah 25 tahun agenda WPS berjalan, beberapa pilar seperti pencegahan dan perlindungan menunjukkan perkembangan.
Namun, partisipasi masih menjadi tantangan paling besar. Perempuan sering dilibatkan sebagai bagian dari proses, tetapi belum sepenuhnya ditempatkan sebagai aktor inti dalam pengambilan keputusan perdamaian dan keamanan. Di sinilah urgensi WPS menjadi semakin relevan untuk diinstitusionalisasikan, bukan hanya didiskusikan.
Organized by The Habibie Center in collaboration with the UK Mission to ASEAN